Rabu, 15 September 2010

REFLEKSI BUKU - "THE TOP 200 CHOMSKY LIES" (Bogdanor, 2007)


Jenis: Non-fiksi, kompilasi
Bidang: Umum

"Benar-salah cenderung bersifat relatif--atau bahkan subyektif. Dan karena lebih berkutat pada masalah cara dan/atau gaya, benar-salah dekat dengan yang fisik. Lain itu, kebenaran dan kebohongan ialah substansi lain yang bersifat lebih universal pun mentalis."

PENDAHULUAN

Secara umum, karya ini dimaksudkan untuk tujuan mengontraskan dua hal yang berbeda--yang berpangkal untuk membuktikan bahwa Chomsky telah berbohong.


ISI

A. Kritik

Ada 3 hal yang membuat saya tidak apresiatif dengan buku ini, yakni:

1. Kualifikasi sumber data cacat

Dari yang saya amati, tindak pengontrasan ini tidak sahih mengingat tidak semua data dicatat dengan menggunakan metode standar, khususnya pada transparansi pustaka. Contohnya, yakni pada saat Bogdanor berusaha mengungkapkan kebenaran atas kebohongan yang disebarkan oleh Chomsky mengenai: (a) kapan terjadinya kasus pemboman di Israel (p. 39); dan (b) pada kasus pemboman di Kamboja (p. 48).

2. Penjelasan minim--atau hampir tidak ada

Di luar itu, "buku" ini lebih bersifat seperti katalog propaganda alih-alih sebuah analisis untuk membedakan kebenaran dan kebohongan. Tidak ada: (a) justifikasi sumber (penulis) pustaka secara lengkap--seperti: identifikasi tokoh, kualifikasi profesi, kredibilitas sosial, dsb;* apalagi (b) penjelasan (jembatan) untuk kedua pernyataan yang saling bertolak belakang tsb--yang menurut saya merupakan bagian terpenting. Pada akhirnya, membuat "buku" ini menjadi sulit untuk saya pahami (percayai). Yang lebih mendasar, secara entah-berantah Bogdanor melabeli pernyataan A sebagai kebohongan dan pernyataan B sebagai kebenaran.

3. Kegamangan korelasi kedua pernyataan yang dipengaruhi oleh:


3.1 Ketidaksesuaian


3.1.1 Kata benda: Marxist tidak sama dengan Marxist-anarkis

Saya melihat tidak semua pernyataan yang disajikan memiliki korelasi langsung. Sebagai contoh pada bagian "Chomsky Lies [a]bout Himself" (p. 61). Contoh: Pada eksposisi ke-10, ada pernyataan A yang berbunyi, "Saya tidak pernah menganggap diri saya seorang Marxist atau bahkan menganggap ide tersebut bersifat Marxist seperti ide-ide yang berkaitan dengan agama dan analisis rasional lainnya." (Chomsky, 2004: 259 - "Language and Politics"). Sementara itu, di pernyataan B dikatakan bahwa, "Menurut saya, sudut pandang seorang Marxist-anarkis terbukti cukup jauh dari apapun yang mungkin terjadi di dalam ilmu linguistik." (Ibid, p. 113). Kemudian ditambah, "Saya tidak akan menelantarkan Marxisme." (Ibid, p. 153). Dari pengamatan saya, ada elemen-elemen dari kalimat tersebut yang membatasi terciptanya hubungan di antara kedua premis tersebut. Penjelasan: Di pernyataan A disebutkan tentang seorang 'Marxist'; sementara di pernyataan B, 'Marxist-anarkis'. Kita mendapati bahwa ada perbedaan nomina yang digunakan. Dengan analisis metode substitusi, bila 'Marxist' adalah 'hijau', sementara 'Marxist-anarkis' adalah 'hijau-biru'; kita dapat mengatakan bahwa kita tidak bisa menyebut warna 'hijau' setara dengan 'hijau-biru'. Entah bersifat setara atau bertingkat, secara morfo-semantik, kata majemuk 'Marxist-anarkis' dari pernyataan B tidak bisa disandingkan dengan kata singular 'Marxist' dari pernyataan A.

3.1.2 Kata kerja: Mengkaji Marxisme tidak sama dengan menjadi Marxist

Selanjutnya, ketidakselarasan lain juga bisa kita amati pada sebuah klausa di pernyataan A, yakni "Saya tidak pernah menganggap diri saya seorang Marxist" dan klausa dari pernyataan B, yakni "Saya tidak akan menelantarkan Marxisme". Dari kedua pernyataan tersebut kita tidak bisa secara langsung mengatakan bahwa 'menelantarkan' berarti 'menjadi bagian [akan sesuatu]'. Untuk lebih jelasnya, simak analisis dengan metode substitusi berikut:
(a) "X tidak akan pernah menganggap dirinya seorang muslim"--atau bagian dari Islam; dan
(b) "X tidak akan menelantarkan Islam."
Apakah dengan acuh terhadap Islam itu berarti si X bukan seorang muslim? Mungkin saja bila si pembuat pernyataan memang bukan seorang muslim. Bisa jadi dia hanya subyek dari pemeluk agama lain--atau bahkan ateis--yang sedang mengkaji studi tentang Islam. Kenyataanya, kita tidak tahu akan hal itu. Atau dalam kata lain ada bagian yang hilang yang membuat kita tidak bisa menyimpulkan. Itu artinya, sub-premis tersebut tidak bersifat inklusif secara langsung pada premisnya yang pada akhirnya membuat hal tersebut mustahil untuk dibuktikan.

3.2 Kesesuaian

Dan bila dicermati lebih seksama, kalaupun ingin dipaksakan bahwa 'Marxist' sama dengan 'Marxist-anarkis', pernyataan A dan B ini justru menciptakan harmoni. Di pernyataan A disebutkan bahwa "Ide-ide seorang Marxist tidak berkaitan dengan analisis rasional apapun"; sementara itu di pernyataan B disebutkan bahwa "Perspektif seorang Marxist[-anarkis] terbukti cukup jauh dari ilmu linguistik." Dengan penalaran umum bahwa linguistik adalah sebuah ilmu, maka aman saja untuk menyebutnya sebagai sebuah analisis rasional. Dan dengan menilai bahwa konsep 'tidak berkaitan' pada pernyataan A bisa memiliki kesan (sense) yang sama dengan 'jauh' pada pernyataan B, saya pikir kesamaan ini bisa menjadi bukti untuk keselarasan yang saya maksud sebelumnya.

3.3 Ke(tidak)sesuaian berarti ke(tidak)jujuran

Dari 2 ketidaksesuaian di atas disimpulkan bahwa pernyataan A dan B tersebut tidak berhubungan. Itu artinya, setidaknya untuk satu pemaparan tersebut (p. 61), Chomsky tidak terbukti berbohong. Dan dari 1 kesesuaian [yang dipaksakan], justru Chomskylah yang terbukti (telah) berkata jujur--atau paling tidak persisten.

B. Pujian

Namun begitu, meski tema yang dimasukkan oleh Bogdanor relatif soliter; isu yang dimaktubkan ke dalamnya terhitung banyak. Salut atas keberhasilannya mengumpulkan ke-200 korpus.


PENUTUP

Zaman sekarang, bila tidak ingin disebut penyangkal (buta-tuli), kita harus meningkatkan level skeptisisme kita dengan meruncingkan indera kita. Iya toh? (cf. New Scientist, 2010 - "Living in denial"). Menurut saya "buku" ini lebih bercirikan pada kebiasan (sinisme) daripada sesuatu yang netral.


NOTABENE (*)

Hal-hal yang demikian saya rasa ada pentingnya mengingat  eksposisi media dalam mendistorsi informasi sbg konsekuensi bisnis, menurut saya, benar berperan (Herman and Chomsky, 1988 - "Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media").

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar