Senin, 16 Agustus 2010

BLOG ANONIM [1] SEBAGAI BENTUK KEBEBASAN BERPENDAPAT YANG TERLAKSANA ATAU JUSTRU REAKSI ATAS TEKANAN POLITIS?





PENDAHULUAN

Di suatu waktu (2010), saya terlibat diskusi dengan salah satu selebritis lokal di Twitter.2  Diskusi kami berdua berpusat pada hubungan bahasa Inggris dengan promosi budaya daerah dalam kepariwisataan. Sementara saya menjelaskan tentang alasan-alasan perlunya "menganaktirikan" bahasa Inggris sebagai bentuk respon terhadap kamuflase globalisasi (Zuckermann, 2003; band. Hanafi, 2009); beliau justru kontradiktif dengan mengacuhkan peran bahasa nasional dan menggunakan bahasa Inggris. Uniknya, melalui Twitternya, beliau adalah pihak yang cukup proaktif dalam menyebarkan ideologi nasionalisme--bingung? Saya juga. Mengapa seorang nasionalis justru mengacuhkan peran bahasa nasional?3 4 Di akhir percakapan, ia pun meminta pranala blog saya. Sia-sia saja, karena saya sendiri tidak pernah lagi aktif menulis blog sejak lulus SMA (2004).

Di lain kesempatan (2010), salah seorang pengamat politik tanah air5--juga melalui Twitter--membahas tentang peran blog anonim--dalam kaitannya dengan penyebaran informasi.

Berkaitan dengan hal yang telah disebutkan dalam dua kejadian di atas, maka saya mencoba membuat sketsa tentang apa itu blog anonim, siapa pembuatnya, dan sebab-musabab munculnya blog anonim.

Kata kunci: blog anonim

"Jika kamu bermaksud mempercayai semua yang kamu baca, maka berhentilah membaca." (Peribahasa Arab).


ISI

Seorang pakar dalam bidang tertentu, secara langsung, disebut juga peneliti. Dalam proses menganalisa, yang namanya peneliti sudah barang tentu diharapkan untuk selalu melihat sebuah kajian dari 3 sisi: positif, negatif, dan netral. Kecendrungan tersebut kemudian "memaksa" tiap peniliti untuk berpikir skeptis (Chomsky, 2006: 20; 103-104). Ideologi skeptisisme ini yang kemudian melahirkan anonimitas. Dengan landasan bahwa para pakar pun--sebagai manusia--tak luput dari kesalahan, dan semua manusia itu sama; maka mereka menanggalkan status. Adapun pakar yang yakin sepenuhnya terhadap sebuah hasil penilitian biasanya dipengaruhi oleh motif politik--dan ekonomi (Cf. Kitcher, 2001; Greenberg, 2003)--contoh kasus: (a) promosi pemanasan global yang dilakukan oleh Al-Gore (AS) (Lindzen, 1995); dan (b) terkikisnya teori Darwin dalam kaitannya homo sapiens sebagai bentuk evolusi dari monyet (Cohen, 2007).

Faktor lain mengapa pembuat blog anonim menanggalkan statusnya, yakni justru statusnya tersebut menghambatnya untuk berbicara. Penalarannya adalah mereka menulis tidak untuk dikenal; melainkan didengar karena frustasi dengan sebuah situasi dan/atau kondisi. Karena itu, umumnya, pembuat blog anonim justru orang yang terkenal di bidangnya dalam (sebuah) komunitas tertentu. Dengan begitu, semacam ada "prasyarat" bahwa sebelum membuat blog anonim Anda harus cukup terkenal terlebih dahulu. Logika ini bisa diterangkan dengan sebuah kondisi ketika wartawan sebuah media massa (baik dalam versi digital maupun cetak) menuliskan namanya ke dalam sebuah inisial--misal: RP. Ketertutupan ini bila dimasukan dengan fakta di lapangan bahwa terdapat permintaan untuk membelokkan berita yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu--misal: pemilik media (Wilmy, 2009-2010)--mengisyaratkan bahwa ada kepentingan perorangan ataupun golongan di hampir tiap berita.6

Oleh karena memendam sesuatu, para pemilik blog anonim ini biasanya adalah peneliti yang memiliki kontrol emosi tidak setenang penampilannya.7 Mereka gemar berdebat. Meski mereka paham benar bahwa berdebat dengan orang awam bisa mengantarkan kebinasaan. Untuk bisa meneruskan hobi berdebatnya, para pakar menghilangkan statusnya dengan membuat blog anonim agar setara dengan para gila debat umum yang masih hijau. Ini bisa menjadi faktor ketiga mengapa penanggalan status sosial itu penting, yakni agar kredibilitas tulisan mereka mampu disentuh oleh lebih banyak golongan.

Saya pribadi selalu menikmati proses makan-memakan para pemilik blog anonim terhadap para amatiran miskin data yang menyulut "perkelahian". Meski terkadang tidak tega juga, namun begitu, di sinilah kegiatan distribusi dan/atau pentransferan ilmu berlangsung cenderung efektif. Perdebatan dengan kaum awam tidak jarang menyulut emosi. Dan karena hal-hal yang mengandung nilai emosional memiliki kesempatan lebih besar untuk masuk ke memori jangka panjang (citation required), blog anonim memainkan perannya.

Para pemilik blog anonim sudah pasti konsumen ilmu; namun kurang ahli dalam mendistribusikan ilmunya tersebut ke dalam kegiatan belajar-mengajar umum. Sekalipun seorang pemilik blog anonim mengajar secara resmi di sebuah lembaga (in)formal, bisa dipastikan dia terkenal killer di antara muridnya. Karena biasanya, dibandingkan daya ingatnya yang tajam, pemilik blog anonim memiliki kecerdasan emosi yang tidak terlalu menggembirakan. Oleh karena itulah, pemilik blog anonim sering gagal dalam aktivitas pedagogis praktis. Pemilik blog anonim yang berprofesi sebagai pengajar terkenal lebih ramah ketika melakukan kontak dengan buku alih-alih manusia. Di luar faktor intensitas kontak dengan buku dan manusia, arogansi pemilik blog anonim ini dinilai sebagai bentuk konsekuensi atas popularitas yang "dihibahi" oleh komunitasnya; dan kesendiriannya di tempat yang lain di waktu yang bersamaan.

Ideologi anonimitas kemudian banyak dipraktikan di dalam dunia maya. Salah satu wadahnya yang cukup terkenal adalah situs 4Chan (cf. Poole for TED, 2010). Pembuatan blog anonim bisa juga diartikan sebagai wujud kekecewaan para pakar ketika menemukan kontras di antara konteks akademis dan dunia nyata. Atas kerancuan yang dilihatnya, para pakar ini kemudian menyembunyikan dirinya bersama pengetahuannya ke dalam blog anonim. Dari sini, maka bisa diidentifikasi bahwa terdapat juga pemilik blog anonim yang tidak suka didekati oleh siapapun--khususnya, kaum oposisi dan penjilat. Isolasi dirinya dalam anonimitas seolah berbunyi, "Jika kamu segan berwelas asih berbagi data bisa tolong usahakan untuk tutup mulut?" Tidak sulit bagi para pembaca blog yang juga merupakan penulis blog anonim untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan kombinasi rasa hormat kepada penulis blog anonim dan ketidakberdayaan atas rezim politik, dua orang atau kumpulan penulis blog anonim saling berteriak dalam nyinyir kebisuan.


PENUTUP

Di luar praktik KKN, memiliki blog tentu tidak sesulit memiliki gelar akademis. Kita tetap harus bijak dalam membaca blog anonim tersebut. Apakah blog anonim berperan dalam mendistribusikan ilmu atau justru memupuk sampah--internet sebagai TPA? (citation required). Benang merahnya, tidak peduli siapa yang berbicara, selama informasi yang disajikan masuk ke nalar kita (bisa diproses), maka kita patut mempertimbangkan untuk menjadikannya sebagai pengetahuan. Logika anonimitas ini masuk dengan mudah ke dalam konsep persamaan HAM dalam isu hak kebebasan berpendapat.

Sebagai negara demokrasi-sosialis (band. Adian, 2010), sistem institusional Indonesia masih perlu dibenahi. Ada beberapa institusi, yang jika tidak diawasi oleh pihak luar (bukan instrumen negara), masih melakukan penyimpangan. Atas kondisi ini maka saya bisa menyimpulkan bahwa kebebasan berpendapat masih belum ditegakan sempurna--contoh kasus: pembatasan hak siar infotainmen (band. Jawa Pos, 2010). Institusi negara sepeti Depkominfo masih dinilai menye-menye dalam mewujudkan hal ini (band. Kompas, 2010). Hadirnya blog anonim merupakan sebuah kondisi ipso facto bahwa mempublikasikan pendapat masih tidak lepas dari pengawasan dan kontrol kaum elit--tanpa melepas fakta bahwa adanya dua stasiun TV yang cukup berpengaruh dimiliki oleh anggota parpol besar.

Bila internet adalah sumber informasi yang tergolong praktis--secara teknis dan ekonomis, dan rendah pengawasan; saya cenderung untuk menilai bahwa munculnya blog anonim adalah sebagai reaksi para pakar atas tekanan politis mengenai penyebaran informasi di media massa resmi. Dan dengan adanya rencana pelarangan penerbitan sejumlah judul buku oleh Kejaksaan Agung (HMINews.com, 2010) sehingga makin memperkecil wadah bagi para pakar tersebut dalam mengekspresikan buah pikirannya; saya berharap semoga blog anonim tidak betul-betul menjadi diaspora--apalagi tren.


NOTABENE

Bagian isi dari tulisan ini terlebih dahulu saya publikasikan melalui Twitter (2010). Isinya sendiri berasal dari pengamatan langsung semi-partisipatif terhadap (setidaknya) 5 akun Twitter yang membahas seputar politik tanah air dan pemasaran iklan. Secara khusus, alasan saya menggunakan Twitter sebagai sumber data adalah pertumbuhan situs micro-blogging ini yang pesat--baik di dalam maupun luar negeri (Cheng and Evans for Sysomos, 2009; cf. Buchanan for New Scientist, 2010).

  1. Definisi blog anonim bisa berangkat dari banyaknya jumlah informasi yang dimaktubkan ke dalam blog. Tidak terbatas pada sifat-sifat umum seorang penulis, blog anonim juga ditentukan oleh ketidakhadiran data perihal peran penulis terhadap obyek yang dikajinya. Misal: (a) Ketika saya memiliki sebuah blog dengan mencantumkan identitas sebagai Reza Putra; kemudian berbicara mengenai cara mudah belajar bahasa Inggris tanpa memasukkan informasi mengenai pendidikan formal dan informal saya dalam bidang yang terkait dengan tulisan tersebut di dalam blog, maka blog saya ini bisa diartikan sebagai blog anonim. Dengan pra-pemahaman bahwa nomina yang saya gunakan sebagai nama diri bersifat manasuka sehingga siapapun bisa menggunakan nama tersebut; dan pemahaman bahwa saya berbicara sebagai seseorang yang memiliki keahlian dalam berbahasa Inggris dengan derajat terendah--karena tidak adanya kepastian (pengakuan) bahwa saya terdidik. (b) Ketika saya berbicara mengenai kehidupan sehari-hari dengan identitas yg sama dengan kasus (a), maka blog saya masuk ke kategori blog beridentitas (non-anonim). Dengan pra-pemikiran bahwa kegiatan sehari-sehari tersebut ditulis oleh subyek yang bernama Reza Putra; dan pemikiran bahwa semua orang punya nama, dan semua orang punya aktivitas sehari-hari. Dengan tulisannya itu sendiri, dalam kasus ini, subyek si penulis justru menjadi semakin runcing (spesifik)--makin memburami anonimitas blog tersebut. Dari sini bisa disimpulkan bahwa relativitas atas definisi blog anonim dipengaruhi oleh korelasi antara penulis dan apa yang ditulisnya. Semakin umum subyeknya, dan semakin khusus obyek yang ditulisnya; maka semakin tinggi nilai anonimitasnya. Sebaliknya, semakin khusus subyeknya, dan semakin umum obyek yang ditulisnya; maka semakin rendah nilai anonimitasnya.8
  2. Sempat menjadi pembawa acara di salah satu stasiun TV swasta non-berita.
  3. Penilaian saya mengenai pengacuhan ini juga bisa dilandaskan pada judul buku yang ia tulis, yakni "Nasional.Is.Me". Dengan judul tersebut, jelas terlihat adanya campur-kode (Inggris dan Bahasa). Bila campur-kode merupakan suatu gejala lingusitik alamiah atas kedwibahasaan (Wardhaugh, 1986), maka sulit untuk memaparkan ketidaksinambungan nasionalisme yang beliau promosikan bila difokuskan pada landasan kedwibahasaan. Karena faktanya, di luar moralitas, ketidakmampuan berbahasa nasional tidak cukup menggariskan bahwa orang tersebut tidak cinta bangsanya (read Onishi for New York Times, 2010). Bila dibandingkan dengan kondisi Indonesia zaman penjajahan, dimana bahasa Belanda banyak digunakan sebagai bahasa kedua, pengacuhan bahasa nasional yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia dulu dan selebritis lokal ini sama-sama memiliki unsur kesengajaan (Sneddon, 2003)--bukan ketidakmampuan seperti yang terjadi pada anak-anak Indonesia ekabahasa yang berkomunikasi dalam bahasa Inggris meskipun mereka lahir dan tumbuh di Indonesia. Bila kondisi tersebut sarat faktor ekonomi dan sosial; maka yang dilakukan oleh selebritas lokal ini lebih dipengaruhi oleh faktor kreativitas (band. Putra, 2009)--dan mungkin sosial. Jika apa yang dikatakan oleh fisikawan Spanyol bernama Huartes (1700an) sahih bahwa: (a) kreativitas merupakan bentuk kecerdasan tertinggi; dan (b) definisi kreatif dibatasi pada kegiatan penciptaan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya (cf. Chomsky, 2006: 6-7), saya pribadi tidak bisa menyepelekan penemuan si selebritis lokal mengenai usahanya memisahkan sebuah kata benda 'nasionalisme' menjadi sebuah kalimat pernyataan "Nasional Is Me" yang utuh. Untuk menguji apakah karyanya benar-benar asli atau tidak, kita bisa membandingkannya dengan sistem ortografi sejenis yang diusung oleh salah satu anggota grup rap asal Inggris yang bernama Black Eyed Peas. Pada nama dirinya, si selebritis tersebut merubah nama depan 'William'-nya menjadi sebuah kalimat interogatif "Will I Am[?]" Dengan pemaparan-pemaparan ini, saya pikir aman untuk mengatakan bahwa kreativitasnya justru menggagalkan ideologi nasionalismenya.
  4. Menurut hemat saya, ada baiknya kita belajar dari dinas pariwisata Jepang. Mereka mempermudah para wisatawan asing dengan menerjemahkan marka jalan ke dalam bahasa mereka--sesuai dengan jumlah wisatawan terbanyak, yakni: Amerika, Korea dan Cina (cf. Tsukamoto, et al., 2005). Lebih jauh lagi, kita bisa menerapkan ini perwilayah. Misal: Seluruh marka jalan di Bali wajib diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (Australia), Jepang dan Korea. Dengan begitu, kebijakan ini diharapkan bisa lebih tepat guna. Salah satu alasan saya menelantarkan konsep bahasa internasional adalah sifatnya yang lekang waktu. Dengan mempertahankan jiwa masyarakat Indonesia yang multikultural, penerapan multibahasa bisa mengeliminasi kemungkinan adanya kekacauan bila negara yang memiliki kekuatan ekonomi dan politik di atas kita yang dijadikan panutan runtuh sewaktu-waktu.
  5. Pakar politik yang tidak--atau belum--masuk politik praktis; dosen; karib dari WW dan B.
  6. Anda bisa kontraskan hal ini dengan transparansi yang diterapkan oleh media massa Amerika dimana umumnya penulis sebuah berita menggunakan nama jelas alih-alih sekedar inisial.
  7. Ketika menerima oposisi, penulis blog anonim memiliki dua gaya bahasa, yakni: (a) agresif; atau (b) regresif. Mereka yang agresif, bisa langsung membuat kalimat deklaratif atau perintah seperti: "Menjadi kader Partai Demokrat tidak menjadikan Anda benar secara mutlak.", dan "Silahkan sekolah lagi."; sementara si regresif, menggunakan kalimat interogatif atau persuasif seperti: "Robinhood sama dengan pejabat? Sepertinya tidak kena ya?". Terkadang, si regresif ini cenderung melengkapi kalimatnya dengan penggunaan emoticon seperti: ':)', ':D', dsb.
  8. Melalui kata 'anonymous', Oxford (2001) menggariskan konsep anonimitas pada hilangnya karakteristik unik seseorang/sesuatu. Dengan kata lain, semakin anonim seseorang/sesuatu, maka semakin umum--gaib--wujudnya. Kata tersebut diserap oleh bahasa Inggris dari bahasa Yunani, yakni 'anonumos' yang artinya 'tidak bernama'. Penjelasan pada poin 1 menjadi penting mengingat sistem pendaftaran blog seperti Twitter dan Blogger tidak mengizinkan blog tanpa nama. Umumnya, mereka membuat syarat minimum dengan penggunaan nama panggilan yang berupa klaim sepihak atau dua pihak (pemberian dari orang lain). Adapun pendaftaran nama asli bersifat tidak mengikat. Oleh karenanyalah, sistem pendaftaran blog juga sangat rentan dengan penipuan.

RUJUKAN

Adian, Donny Gahral. 2010. Menakar Kualitas Demokrasi dalam "Save Our Nation" [Mod.: Najwa Shihab; Anis Baswedan]. Disiarkan 29 Juli 2010. Jakarta: Metro TV.

Armeyn, Jerussalem Susdo Hasintongan. 2010. Sebuah respon untuk percakapan antara @RP2504 dan @p***** di Twitter.

Buchanan, Mark. 2010. Social web: The great tipping point test. New Scientist, Jilid 2770 - The Greatest Experiment Begins, Juli 2010.

Cheng, Alex and Mark Evans. 2009. Inside Twitter: An In-Depth Look Inside the Twitter World. [Dalam jaringan]. Tersedia di Sysomos.com.

Chomsky, Noam. 2006. Language and Mind (Edisi Ke-3). New York: Cambridge University Press.

Cohen, Jon. 2007. Relative differences: the myth of 1%". Science, jilid 316, 29 Juni 2007. Washington DC: American Association for the Advancement of Science.

Concise Oxford Dictionary (Edisi ke-10), Versi 1.1, 2001 [Berkas komputer dalam CD-ROM]. Inggris: Oxford University Press.

Hanafi, Taufiq. 2009. Sebuah respon untuk "New nationalism - The forthcoming 'ouvre' for Pusat Bahasa--will be? [Reza Putra]" di Facebook.

HMINews.com. 2010. Mengapa kita menggugat pelarangan buku? [Dalam jaringan]. Tersedia di: HMINews.com.

Greenberg, Daniel S. 2003. Science, Money, and Politics: Political Triumph and Ethical Erosion. University of Chicago Press.

Jawa Pos. 2010. Ketua DPR kuatkan pelarangan infotainmen[]. [Dalam jaringan]. Tersedia di: Jawa Pos National Network.

Kitcher, Philip. 2001. Science, Truth, and Democracy. Oxford University Press.

Lindzen, Richard S. 1995. Science and politics: global warming and eugenics in Risks, Costs, and Lives Saved [Peny.: R.W. Hahn]. 1996. New York: Oxford University Press. [Dalam jaringan]. Tersedia di MIT.

Onishi, Norimitsu. 2010. Indonesians' focus on language is often English - As English spreads, Indonesians fear for their language. The New York Times. [Dalam jaringan]. Tersedia di NYTimes.com.

Poole, Christopher. 2010. Christopher "moot" Poole: The case for anonymity online. [Dalam jaringan]. Tersedia di TED.

Sneddon, James. 2003. The Indonesian Language: Its History and Role in Modern Society. Sydney: University of New South Wales Press Ltd.

Syalika, Irani. 2010. Sebuah respon untuk percakapan antara @RP2504 dan @p***** di Twitter.

Tsukamoto, Renpei, et al. 2005. Dragon Zakura. [DVD]. Jepang: TBS.

Wardhaugh, Ronald. 1986. An Introduction to Sociolinguistics. Oxford: Basil Blackwell Ltd.

Wilmy, Rizky. 2009-2010. Sebuah testimoni atas alasannya mengundurkan diri sebagai wartawan sebuah majalah ekonomi. [Pembicaraan melalui pesan singkat]. Bekasi-Bandung.

Zuckermann, Ghil'ad. 2003. Language contact and globalisation: the camouflaged influence of English on the world's languages--with special attention to Israeli (sic) and Mandarin. Cambridge Review of International Affairs, Volume 16, Nomor 2, Juli 2003. Inggris: Carfax Publishing; Center of International Studies (CIS).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar