Kamis, 16 September 2010

KUKU KAKIKU KAKU-KAKU

Seklasik-klasiknya bahasa yang digunakan al-Quran, peran manusia dalam menafsirkan wahyu-wahyu Tuhan tidak akan lepas dari sifat progresif manusia (cf. Sztompka, 2004). Formula kimiawi tubuh yang berubah-ubah membuat manusia menjadi makhluk yang bergerak (cf. O'Hare for New Scientist).

Dan karena manusia itu bergerak; maka bahasapun begitu (cf. Chaer, 2003; Eifring and Theil, 2005). Oleh karenanya, saya lebih sepaham dengan opini ilmuwan Turki spt. Nursi dalam menafsirkan al-Quran.

Aliran garis keras seperti Wahabbi yang kemudian "diterjemahkan" ke Indonesia secara politis oleh Hizbut Tahrir dalam kaitannya menerapkan ajaran agama dengan kekakuan benar tidak saya mengerti.

Dimana bumi berpijak dan langit dijunjung, di situlah al-Quran menjadi pedoman. Menurut saya, konteks historis, geografis, demografis, dan antropologi tidak mungkin bisa dilepaskan begitu saja dalam menafsirkan wahyu Tuhan sehingga memungkinkan bagi wahyu-wahyu tsb. lebih fleksibel ketika memasuki alam (pikiran) yang dinamis dan luar biasa beragam. Perbedaan adalah satu dari rahmatNya. Ketidakmampuan mengatur testosteron logis ketika melahirkan vandalisme. Waktunya melemaskan otot-otot dengan berolahraga mungkin?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar