Rabu, 15 September 2010

RESENSI BUKU - "THIS TIME WE WENT TOO FAR: TRUTH AND CONSEQUENCES OF THE GAZA INVANSION" (Finkelstein, 2010)

Jenis: Non-fiksi
Bidang: Politik

"Saya bukan anti-Amerika, anti-Inggris, anti-Yahudi--atau dalam hal ini anti-zionis. Saya anti-ketidakadilan, anti-hipokritisme, dan anti-kebohongan (Gandhi, 2008 - "The Essential Writing" [Ed. Judith M. Brown])."


Pada bab terpisah, buku ini membahas:
  1. (a) Palestina memiliki kasus-kasus yang lebih mendasar untuk mempertahankan diri alih-alih Israel--dalam artian, dari hukum internasional, Israel sahih untuk disebut sebagai penjajah; (b) peran Mesir dalam mengatasi konflik; dan (c) interverensi agen Israel dalam menyebarkan korupsi di tubuh Palestina dan teror sehingga memunculkan ketidakacuhan negara-negara Arab lainnya--keadaan ini yang dikatakan, salah satunya, menjadikan Israel kebal hukum.
  2. (a) Hamas memiliki landasan kuat untuk menyerang tentara Israel; (b) kontribusi positif dari bangsa Libanon (melalui Hizbullah) untuk Palestina; (c) organisasi internasional seperti PBB yang pro-Palestina [ternyata] lebih mendominasi--cukup mengagetkan; sebelumnya saya mengira orang-orang PBB hanya berleha-leha.
  3. Aksi cuci-tangan pemerintah Israel atas tindak kekerasannya; dan organisasi-organisasi--seperti Human Rights Watch--yang menentangnya.
  4. Teknik-teknik propaganda pemerintah Israel.
  5. Keadaan di Gaza per tahun 2009 hasil "wisata" pribadi si penulis.
  6. Menurunnya dukungan kepada pemerintah Israel-AS dari tataran makro (negara, ormas, universitas, dsb) dan mikrososial (perindividu) dalam kaitannya dengan konflik di Gaza. Secara spesifik, hal tersebut ditunjukan pada ketiga indikator berikut ini yang dapat dinilai sbg agen: (a) keturunan Yahudi itu sendiri;1 (b) warga AS;2 dan (c) masyarakat dari barikade barat.3

Secara umum, buku ini cocok dibaca oleh siapa saja yang tertarik dengan konflik di Gaza. Secara khusus, dari bab 1-5, buku ini mungkin bisa mengernyitkan dahi sebagian orang yang selama ini disuguhi perspektif yang berbeda (salah)--terutama masyarakat Barat akibat interverensi media Barat dalam mendistorsi informasi. Sementara itu, di bab ke-6, buku ini sangat dianjurkan untuk dibaca bagi mereka yang belum tahu perubahaan terakhir masyarakat Yahudi dewasa ini--terutama di Indonesia dan/atau saudara sesama pemeluk Islam yang sebagian dari mereka masih mengeneralisasi--mengartikan secara harfiah dan tanpa konteks--bahwa semua bangsa Israel dan/atau Yahudi laten bersifat biadab. Bab "Ever Fewer Hossanas" wajib dibaca oleh kita yang ingin mengurangi pergesekan sosial akibat su'uzdon--yang mungkin nantinya hanya akan memperburuk keadaan.

Akhirnya, kita tidak bisa lagi menggunakan embel-embel seperti paham kebangsaaan, agama, dan/atau status sosial untuk membedakan yang benar dari yang bathil.

Bagi yang berminat, silahkan kirim alamat sulernya; nanti saya kirim bukunya dalam format PDF.


TENTANG PENULIS

Sama seperti Chomsky (Dekan jurusan ilmu kebahasaan di MIT, AS), dan Carol (pakar bahasa lulusan Harvard); si penulis adalah satu dari beberapa warga AS keturunan Yahudi yang vokal mengkritik kebijakan politik internasional Israel dan AS.


NOTABENE

  1. Aksi saling memprotes antar sesama Yahudi tampak pada situasi berikut ini: (a) "Israel sekarang berdampak negatif kepada Yahudi." (Judt sebagai sejarahwan keturunan Yahudi, - "Israel: The alternative", New York Review of Books, 2003); (b) "Penyerangan di Gaza membuat saya malu menjadi keturunan Yahudi" (Kuerti to Mathieu for Toronto Star, 2009 - "Jewish Women Arrested in Toronto Consulate Protest"); (c) seorang keturunan Yahudi-Perancis yang meminta izin ke presiden Israel agar menghilangkan nama belakangnya (Le Monde, 2009 - "Eff acez le nom de mon grand-père à Yad Vashem"); (d) organisasi-organisasi Yahudi ad hoc kini mulai banyak menentang bentuk-bentuk penyerangan (Lerman for Guardian, 2009 - "The Rise of Moderates"; Beaumont, et al. for Observer, 2009 - "Leading British Jews Call on Israel to Halt 'Horror' of Gaza"); (e) beberapa pemimpin organisasi besar keturunan Yahudi juga sudah mulai sadar bahwa tidak ada satupun pembenaran untuk menyerang warga Palestina--termasuk Holocaust (Gerald Kaufman, 2009 - http://www.goldstone-report.org/); (f) adanya laporan berjudul "Report" (tahun) yang ditulis oleh seorang mantan zionis bernama Goldstone. Laporan tersebut digunakan PBB sebagai (salah satu) materi dasar meratifikasi sanksi tegas kepada Israel; (g) anak-anak muda keturunan Yahudi saat ini lebih kritis dalam mengkaji kebijakan luar negeri pemerintahan Israel--setidaknya pada apa yang ditujukan di dunia blogging, seperti: (i) American Prospect; (ii) Mondoweiss; (iii) Think Progress; dan (iv) Salon.com (2009); (h) gerakan-gerakan di kampus sering dijadikan sebagai salah satu sinyalemen munculnya pembaruan. Hanya 5% dari sekitar 1/2 juta mahasiswa Yahudi di Kanada yang masuk ke organisasi keyahudian. Sementara itu, per 2010 perguruang tinggi di Kanada berhasil merebut posisi AS sebagai negara dengan pendidikan tersier terbaik di dunia (cf. Study Magazine via Twitter, 2010).
  2. Menurut saya, kombinasi tragedi Holocaust dan peran keturunan Yahudi pada sektor riil berpengaruh pada pembentukan sentimen positif warga AS. Tapi sekarang ada progres yang ditunjukkan pada: (a) secara sosial, masyarakat AS yang berteman dengan orang Yahudi membicarakan isu tentang Israel menurun dari 75% menjadi 65%; dan 53% menjadi 39% (Cohen for Forward, 2005 - "Poll: Attachment of U.S. Jews to Israel falls in past 2 years"); (b) warga AS yang membenarkan penyerangan Israel menurun menjadi 40%; sementara di partai Demokrat hasilnya menurun lagi menjadi 30% (Rasmussen Reports, 2008 - "Americans Closely Divided over Israel's Gaza Attacks"; Pew Research Center, 2009 - "Modest Backing for Israel in Gaza Crisis", alt. link); (c) warga AS yang mendukung Israel menurun dari 69% ke 49%; begitupun mereka yang percaya bahwa [pemerintah] AS seharusnya mendukung Israel (Jewish Telegraphic Agency, 2009 - "Poll Shows Dip in American Voters' Supporting Israel").
  3. (a) Uni-Eropa menilai Israel sama rendahnya dengan suku pariah--kasta terbawah di India--karena dinilai sebagai penghambat utama terciptanya perdamaian dunia (Beaumont for Guardian, 2003 - "Israel Outraged as EU Poll Names It a Threat to Peace"); (b) 19/21 negara menilai Israel bersifat mudarat (Economist, 2007 - "Second thoughts about the Promised Land"); (c) Israel tidak bisa lagi mendiktekan forum debat. Dia tidak berada di atas hukum (Financial Times [ENG], 2009 - "Israel's Revealing Fury towards EU", alt. link); (d) Mahasiswa yang menentang Israel berasal dari beragam institusi, yakni: Oxford, Cambridge, Manchester, Birmingham, London School of Economics, School of Oriental and Asian Studies, Warwick, King's, Sussex, dan Cardiff (Quinn and Weaver, 2009 for Guardian - "Tens of Thousands in London Protest Gaza Offensive"; cf. Daily Mail, 2009 - "Cities across the World Become Platform for Hundreds of Thousands of Protesters against Gaza Fighting").

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar