Selasa, 27 Juli 2010

SITUS JEJARING SOSIAL DAN PERLINDUNGAN BAHASA NASIONAL

"Twitter dan Facebook sebagai sumber ilmiah ilmuwan sosial." (Buchanan [FRA] for NewScientist, 2010 - The great tipping point test in The Greatest Experiment Begins).

Setipe dengan masalah moral yang dihadapi fisikawan dalam hal pemisahan nuklir dan biologiwan dalam isu rekayasa genetik, ilmuwan sosial mengalami dilema yang sama dalam menggunakan situs jejaring sosial sebagai sumber ilmiah dalam mengkaji pola perilaku manusia. Dengan sifatnya yang dinamis (Sztompka, 2004), manusia tidak pernah menjadi obyek yang mudah untuk diteliti seperti makhluk lain pada umumnya. Satu-satunya kengerian yang ditimbulkan dari ide ini adalah absennya metode untuk mengenali profil nyata dengan yang buatan--untuk melindungi opini publik dari informasi palsu atas kekuasaan sebuah rezim politik.

Dari sanalah kemudian pengamatan pada situs jejaring sosial sebagai alat menjadi penting.

Dalam hubungannya dengan bahasa dan internet sebagai media, situs jejaring sosial bisa dikatakan sebagai alat percepatan terjadinya kontak bahasa--pada akhirnya, perubahaan bahasa itu sendiri. Hemat saya, Twitter dan Facebook bisa menjadi: (a) alat; dan/atau (b) indikator yang potensial bagi para perencana bahasa dalam kaitannya dengan perlindungan bahasa nasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar