Minggu, 29 Mei 2011

OTAK DAN LOYALITAS

Dalam dunia perempuan, seberapa jauh opini temannya berpengaruh dalam pembentukan model realitas di otaknya? Apabila neokorteks kita membangun masa depan berdasarkan pengalaman nyata dari masa lalu,1 seberapa presisi prediksi kita dibangun dari memori yang tersangkut dalam sinaps? Apabila fungsi hipokampus bahkan tidak mampu membantu satuan kolom per satu lapisan neuron dalam mengelompokkan data dalam pola invarian, seberapa spesifik pengalaman seseorang? Apabila ahli neurobiologi beranggapan bahwa data yang kita simpan tak lekang waktu,2 apa yang membuat impuls tercipta di bagian tersebut? Bisakah kita memerintahkan otak secara sadar pada neuron untuk tidak menembak di bagian tertentu sehingga tidak mengakses data tentang pengalaman yang tidak menyenangkan?

Visual korteks tidak menyimpan data dalam bentuk visual. Bungkus kopi disimpan dalam bentuk bukan bungkus kopi. Lukisan kubisme dan desain piksel tidak disimpan dalam bentuk kotak-kotak. Wajah seseorang pun begitu. Keempat obyek tersebut disimpan dalam suatu pola non-spesifik yang membentuk sekuens.3 Saya bisa mengenali merek kopi karena arus informasi di otak bermula dari data spesifik, digeneralisasi, kemudian diprediksi secara spesifik kembali. Ini membuat saya dapat mengenali kopi yang saya suka atau tidak--meskipun ketika departemen pemasaran dari produsen kopi tersebut memutuskan untuk melakukan 're-branding' ke dalam logo yang baru, otak saya akan tetap dapat mengenalinya. Serupa dengan gagasan ini, bagaimana indra-indra kita memproses data dalam sensasi lain? Afeksi, sayang atau cinta misalnya? Apabila benar bahwa semua indra kita hanya menangkap data dalam 1 bentuk yang sama, akankah prosesnya menjadi identik? Seberapa jauh neokorteks akan toleran terhadap data baru? Terhadap rasa lidah yang baru; terhadap lentikan jari yang baru; terhadap tatapan mata yang baru? Apabila pola invarian membuat kita mampu mengenali obyek serupa dari data sebelumnya sebagai obyek yang berdiri dalam kategori yang sama, misalnya, mengenali GoodDay, Indocafe, dan Nescafe sebagai bagian dari kopi bungkus; mengenali si A, B, dan C sebagai cinta, apakah kesetiaan berarti kesulitan neokorteks dalam mengkategorikan sensasi? Apakah ini membuat saya tampak seperti robot dengan algoritma kortikal dalam silikon?

Sebagai linguis, untuk pertama kalinya saya bertanya, "Apakah kesetiaan bermakna positif, negatif atau netral? Dalam situasi spesifik apa?"4

EPILOG
Dalam prosesnya, neokorteks sering kali kewalahan dalam mengelompokkan data. Ini yang membuat kita sering labil menentukan pilihan. Dan ini normal. Kepastian yang ajeg justru yang dikhawatirkan. Intoleransi terhadap sesuatu, atau yang dalam nuansa positifnya juga dikenal dengan loyalitas, sangat mungkin berasal dari landasan yang keliru. Pada sisi yang lebih teknis, biofisika misalnya, hal tersebut bisa dipengaruhi oleh variasi bentuk fisik dalam beberapa elemen otak--entah kabel-kabel subkortikal yang lebih tebal; sel dendrit yang lebih tipis; lipatan protein yang berbeda atau bahkan yang lebih mikro dan tak ada hubungannya dengan tangan manusia seperti manuskrip gen--setidaknya hingga hari ini.

NOTA BENE
  1. Dalam perspektif ilmu komunikasi, situasi ini serupa dengan definisi konteks epistemik.
  2. Teori ini sejalan dengan salah satu wacana fisika mengenai eksistensi bahwa sesuatu yang tidak tampak secara fisik tidak berarti ia tidak ada (cf. Hawking, 2010 - "The Grand Design" mengenai realisme bergantung model, hal. 49-50; Einstein).
  3. Karena pola non-spesifik ini, wilayah otak yang diduga mengolah satu indra tertentu bisa juga memproses data yang diinput dari indra yang lain, contoh kasus: visual korteks yang aktif ketika seorang tunanetra membaca huruf braile. Somatosensorik, visual korteks, wilayah auditoris, dst. berfungsi karena mereka bergotong-royong alias tidak bekerja secara mandiri (cf. Hawkins, 2004 - "On Intelligence"). Oleh karenanya ketika seorang Shakespeare jadi-jadian mengatakan, "Saya mencium aroma manis." Kita tahu bahwa ia tidak hanya sedang menyatakan suatu metafor melainkan pernyataan yang dapat pula bermakna harfiah. Broca mengolah data linguistik dengan bekerjasama dengan dan/atau bahkan menginterferensi bagian(-bagian) yang saya sebutkan di atas sebelumnya. Interferensi tersebut dapat diuji ketika Anda yang mampu berdwibahasa melafalkan kalimat sebagai berikut ke dalam ejaan berbahasa Inggris: "'batik', 'ikat' and 'paddy' are English loanwords absorbed from Bahasa while 'orang-utan' is from Malay." Saya yakin bahwa beberapa dari kalian pasti tersendat atau melakukannya secara perlahan-lahan ketika membacanya. Ketersendatan Anda dalam melakukan tugas ini menandakan suatu interferensi morfemis-fonologis yang melibatkan lebih dari satu bagian otak.
  4. Sebagai masyarakat bahasa, kita semua memiliki otoritas untuk menjawab pertanyaan linguistik; merevisi kamus; mendebat pejabat Pusat Bahasa atau bahkan L'Academie francais yang terkenal kolot. Karena semantik bersifat personal; karena bahasa bersifat dinamis; karena bahasa milik kita.

Kata kunci: neurolinguistik, sosiolinguistik, sosiobiologi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar