Kali ini saya mengulas buku “Shop Class as Soulcraft” yang
ditulis oleh Matthew B. Crawford.Buku ini adalah konversi
halus dari disertasinya. Secara umum, buku ini memberikan gagasan tentang cara
memperoleh kebahagiaan bagi para pekerja kerah putih. Berikut ini adalah
perincian dari gagasannya:
1.
BAB 1 menjelaskan tentang nilai positif dan masa
depan dari sekolah kejuruan dan pekerjaan manual
Finlandia
mungkin bisa dijadikan kisah sukses dari sekolah kejuruan.
·
Kepuasan batin dari
pekerjaan manual
·
Tuntutan kognitif dari
pekerjaan manual
·
Pendidikan demokratis yang baik meletakan apa
pun yang baik pada tempat terhormat darikehidupan kita.
o
Efisiensi dan kepercayaan diri tidak berdiri
sendiri.
·
Pekerjaan manual adalah pekerjaan masa depan
(Blinder, 2006).
2.
BAB 2 menjelaskan bahwamengikuti tuntutan
kapitalisme, yakni menganggap kegiatan ‘berpikir’dan‘bekerja’sebagai kegiatan
yang terpisah adalah penyebab mengapa kita semakin bodoh (Bravermen, 1974)
·
Degradasi pekerjaan kerah biru
o
Kenaikan upah membuat mesin di pabrik tetap berjalan
sekaligus membuang pekerja yang terampil demi efisiensi biaya.
o
Utang konsumen (cicilan) adalah “pendisiplinan”
pekerja.
Temuan abad
20 ini yang membuat para buruh bekerja seperti babi.
·
Degradasi pekerjaan kerah putih
o
Pengalihan wewenang atas penilaian dari manusia
kepada intelegensi artifisialtermasuk, tetapi
tidak terbatas pada, perangkat lunak, mesin, robot, dll.
Pengalihan tersebut
juga merampas kepercayaan diri pekerja (lih. BAB 1).
·
Karena kreativitas dibentuk dari bekerja secara
berkelanjutan, kreativitas ≠ kebebasan. Menganggap ‘kreativitas
= kebebasan’ sejalan dengan budaya kapitalisme baru—studi kasus: Best Buy.
·
Mengikuti kursus daripada kuliah adalah salah
satu cara untuk mengelak dari tuntutan tersebut.
3.
BAB 3 menjelaskan tentang kepemilikan sejati
atas barang-barang yang kita miliki
·
Lapisan birokrasi dalam perusahaan menghilangkan
kebebasan konsumen (hal. 63).
·
Fakta fisika dan karakter budaya kebendaan
sama-sama belum berubah.
Beberapa perusahaan menyembunyikan hal
tersebut dari konsumen dengan merancang produk yang tampak modern dan sederhana.
o
Tidak ada produk yang antirusak. Semua produk,
misalnya elektronik, memiliki keterbatasan fisik. Menyerahkan urusan perbaikan
produk yang kita beli kepada produsen, misalnya iPhone,adalah bentuk
ketergantungan mutlak; kepemilikan semu sehingga tanggung jawab kita terhadap
barang menjadi terbatas.
·
Kegiatan lebih penting daripada produk.
Dengan tangan, kita berkegiatan (vid.
Anaxagoras).
·
Otonomi perusahaan terhadap sebuah produk justru
merenggut kebebasan dan kecerdasan kita sebagai manusia (cf. ibid) dan merusak kegiatan konsumsi kita sebagai konsumen (hal.
77).
·
Kerugian peluang yang digunakan ekonom bersifat
semu karena pengalaman manusia tidak bisa dipertukarkan. Formula bahwa ‘waktu
adalah uang’ tidak selamanya berlaku.
4.
BAB 4 menjelaskan bahwa jenis pekerjaan yang
berbeda menarik karakter yang berbeda pula.
Saya tidak
yakin dengan pendapatnya, bukankah seharusnya sebaliknya? Pandangan Crawford
dipengaruhi oleh pendapat Marx bahwa dengan bekerja manusia mengenali karakter
spesiesnya.Meskipun sebenarnya ia juga menyadari bahwa pendapat Marx tidak
terlalu meyakinkan (hal. 217).
·
Pola pikir fisikawan yang matematis tidak melulu
realistis (hal. 91).
·
Sama seperti dokter, moral dan etika pekerja
mekanik terletak pada keterbukaan(tidak termasuk dokter yang mengalami
gangguan singulat (Amen, 2011 – “Change Your Brain Change Your Life” hal.
168-169)) dan kerendahatianbahwa hasil yang akan mereka dapatkan
ditentukan oleh sesuatu yang sedang mereka perbaiki, yang faktanya adalah buatan
pihak lain. Pihak lain tersebut bisa Volkswagen, Tuhan atau Seleksi Alam.
Karena hasil tersebut di luar dari ketentuan mereka, tugas dan tanggung jawab
dokter dan pekerja mekanik hanyalah mempromosikan hasil tersebut sesering
mungkin (hal. 94-95; vid. Aristoteles
– “Rhetoric”).
o
Memperbaiki barang yang rusak bisa mengobati
narsisme karena hanya dengan kepedulian kita dapat mencari akar masalahnya.
·
Pengetahuan pribadi = idiot?
·
Kemampuan metakognisi terkait dengan moral. Mengesampingkan
kepentingan pribadimenghasilkan kecermatan (hal. 115-116).
·
Kebodohan sebagai prinsip (hal. 116-118)
Saya tidak
mengerti bagian ini. Apakah prinsip yang dimaksud di sini adalah aturan moral,
gagasan atau aturan proses?
5.
BAB 5 menjelaskan bahwa dunia kerja adalah
bagian dari pendidikan lanjutan
·
Apa yang dimaksud dengan ‘sisi kesopanan yang
salah’ dalam pekerjaan atau konferensi akademis? (hal. 128)
Saya tidak
mengerti bagian ini.
·
Manusia yang selalu ingin tahu adalah
pengkhianat (Santo Agustinus). Tidak seperti keingintahuan yang bersifat
teoritis, keingintahuan yang bersifat praktis memerlukan kehati-hatian (hal.
144-145).
·
Dalam menentukan tarif, kita harus keluar dari
pola pemikiran kita sendiri demi mewujudkan moralitas kita sebagai pekerja.
Menurut
saya, bagian ini bertentangan dengan bagian dalam BAB 3 yang penulis paparkan
(hal. 64). Berasumsi sebagai pekerja mekanik, saya tidak merasa wajib untuk
menyesuaikan waktu yang saya habiskan untuk bekerja dengan waktu yang klien
habiskan untuk menunggu barangnya selesai diperbaiki karena pengalaman yang
kami peroleh dari waktu yang dihabiskan sudah pasti berbeda (lih. hal. 132).
Tanpa memperhatikan tingkat kecakapan saya sebagai pekerja mekanik, tingkat
kecakapan klien sebagai pengendara, dan keseriusan produsen memproduksi
kendaraan. Dengan penyesuaian tersebut, saya merasa bahwa saya telah merusak
moral orang lain (dan moral saya sendiri) dengan menerima tanggung jawab orang
tersebut tanpa persetujuan.
6.
BAB 6 menjelaskan tentang moralitas semu dalam
kehidupan perkantoran
·
Dalam kaitannya dengan hasil dan prestasi,
apakah yang dimaksud dengan obyektivitas dalam perusahaan yang tidak
memproduksi obyek nyata? Para manajer biasanya mengalihkan perhatian mereka
kepada keadaan psikologis karyawan.
Gambaran ini
persis dengan keadaan kantor saya yang bergerak di bidang penerjemahan.
Mitigasi saya adalah dengan meletakan fakta bahwa dokumen yang saya terjemahkan
adalah milik klien—dalam artian melepaskan peran perusahaan sebagai perantara.
·
Pengawasan dalam kantor di mana pekerja kerah
putih bekerja lebih lemah daripada tempat kerja di mana pekerja kerah biru
bekerja.
o
Akar dari kehidupan kerja yang miskin bukanlah
keserakahan melainkan manajemen kerja di mana para manajer seharusnya bekerja.
·
Jabatan tingkat menengah seperti manajer adalah
posisi serba salah. Mereka mengembangkan kepribadian dan gaya bahasa seperti
“diplomat”.
·
Sekolah ke jenjang yang lebih tinggi demi karir
adalah kesalahan.
Saya tidak
sepenuhnya setuju dengan pendapat ini. Dalam kasus Finlandia, semua guru wajib
memperoleh gelar master untuk dapat mengajar. Melalui PISA, kita semua tahu
seberapa hebatnya guru-guru di sana (Sahlberg, 2010 – “The Secret to Finland’s
Success”).
o
Inflasi ijazah adalah pertanda bahwa masyarakat
membeli produk pendidikan hanya untuk mengimbangi kebodohan.
o
Kecuali apa yang Anda pelajari di sekolah selalu
relevan dengan prestasi kerja Anda.
o
Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa sarjana
bekerja lebih baik daripada para lulusan SMA. Sebaliknya, ada korelasi terbalik
antara prestasi sekolah dan prestasi kerja (Berg, 1970).
o
Tidak hanya pelajar yang memiliki hasrat ingin
tahu (Aristoteles).
·
Budaya perusahaan bisa dikenali, dievaluasi, dan
diubah.
·
Kerja tim rentan manipulasi daripada kerja kru.
7.
BAB 7adalah pendukung dari BAB 2 bahwa berpikir adalah
bekerja dan sebaliknya
·
Anaxagoras berkata, “Manusia menjadi makhluk
yang cerdaskarena memiliki tangan.”Menurut saya, kutipan ini kurang sesuai
dengan isi bab ini. Sebelumnya, penulis mengatakan bahwa tangan dan otak adalah
bagian yang tidak terpisahkan (hal. 25; cf. Rose, 2005 – “The Mind at Work”).
Stigma masyarakat bahwa pekerja manual bekerja seolah-olah tanpa otak—bahwa
tangan mereka terpisah dari otak. Dengan demikian, saya akan memodifikasi
kutipan Anaxagoras menjadi, “Manusia menjadi makhluk yang cerdas karena
memiliki tangan [dan otak].”Dan modifikasi tersebut tidak akan mengubah
pernyataan-pernyatannyayang tercantum dalam BAB 3.
·
Algoritme digunakan untuk masalah dengan
variabel yang lebih sedikit sementara intuisi untuk masalah dengan variabel
yang lebih banyak.
Semacam
segregasi otak rasional dan otak irasional? (vid. Lehrer, 2010 – “How We Dedice”; cf. Gladwell, 2008 – “Blink”).
·
Ide dasar dari pengetahuan implisit adalah bahwa
kita mengetahui lebih banyak daripada yang kita dapat ungkapkan.
·
Manusia masih dan akan selalu mengungguli
komputer.
Kecerdasan
bukanlah kecepatan dan kapasitas memori semata (cf. Hawkins, 2009 – “On Intelligence”).
8.
BAB 8 menjelaskan tentang pentingnya berfokus
pada apa yang dikerjakan
·
Cara untuk memperoleh kecepatan lebih penting
daripada kecepatan itu sendiri.
Dalam
konteks yang lebih umum, ‘yang penting halal’berfungsi sama :D
·
Produk atau hasil kerja dapat terpisah maupun
tidak terpisah dari pekerja.
Menurut
saya, keterpisahan produk atau hasil kerja seorang pekerja sangat dipengaruhi
oleh kecintaannya terhadap pekerjaannya sendiri.
·
Hasil adalah faktor eksternal yang dapat
memberikan dampak buruk pada hasrat pekerja.
Secara
pribadi, saya mengiyakannya. Untuk alasan praktis dan teoritis, saya merasa
tidak nyaman dengan sistem penilaian di kantor.
o
Apakah ada hubungan antara hobi melakukan
perjalanan dengan moral yang rusak? (hal. 221-224).
Hal tersebut
mungkin ada, tetapi tidak selalu.
·
Berkumpul bersama rekan seprofesi bisa menjadi
salah satu cara untuk menumbuhkan hasrat kita terhadap pekerjaan yang sedang
kita tekuni.
Saya tidak memberi buku ini «««««karena
inkonsistensi pada dua pendapatnya (lih. BAB 5 dan BAB 7). Dan saya batal
memberi buku ini ««««
karena terdapat bagian-bagian yang pada akhirnya tidak juga dapat
dimengerti—seperti yang dikemukakan di atas. Saya berharap Crawford bisa
merekonstruksi kalimatnya dan memberikan uraian tambahan sehingga lebih mudah
dimengerti oleh pembacanya. Sementara dari segi produksi, saya cukup puas
dengan hasil terjemahannya. Meskipunsaya menemukan istilah yang tidak
diterjemahkan secara konsisten, misalnya: ‘artificial intelligence’ yang
dipadankan dengan ‘intelegensi artifisial’ (hal. 53) dan‘intelegensi palsu’
(hal. 207); dan frasa yang saya tidak mengerti, misalnya: ‘akta pembicaraan’
(hal. 230)—apakah maksudnya ‘notulensi rapat’ atau ‘pembicaraan sesama rekan
seprofesi’?